Cerpen: Sepenggal Ujian Rena



By: Dew Khatulistiwa


"Bang, mau jadi apa rumah tangga kita. Sudah banyak saya berhutang bang. Hentikanlah kebiasaan judi Abang yang sama sekali tidak membawa manfaat apapun". Ujar Rena tampak marah dan memohon pada suaminya.

"Diam kamu, jangan suka mengatur suami" hardik Yudi dengan tatapan melotot penuh amarah.

Prak di dorongnya tubuh Rena, istrinya yang telah ia nikahi sejak 7 tahun lalu. Pinggul Rena sakit terkena lemari pakaian yang terbuat dari kayu yang tampak usang. Lemari itu sebenarnya bekas almarhum ibunya Rena.

Kejadian ini sebenarnya sudah sering dilakukan suami Rena, semenjak suami Rena diPHK. Sejak itu kelakuan Yudi menjadi-jadi.Ia habiskan waktunya untuk pemborosan uang, jikalau ia ada uang ia hanya bersenang-senang untuk diri pribadi. Sebenarnya ia  mencoba peruntungan dengan berjudi agar dapat kaya mendadak ditengah carut marut perekonomian keluarganya. Hasilnya nihil, satu persatu aset di rumah telah dijualnya untuk modal judinya.

 Rena tidak tinggal diam. Ia mencoba berjualan gorengan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya juga untuk putra satu-satunya. Rizki, yang kini sudah masuk sekolah dasar. Lama kelamaan banyak pelanggan  yang menyukai gorengan khas Bunda Rena.  Selain menyediakan sambal ala Bunda Rena, gorengannya juga menyediakan cocolan dengan citarasa srikaya dan durian. 

Setiap pagi ia berbelanja ke pasar untuk membeli kebutuhan jualannya. Diolahnya berbagai gorengan itu. Ada bakwan, pisang goreng, ubi dan tahu isi. Ia tidak boleh patah semangat. Ini ia lakukan untuk anak semata wayangnya itu.

***

Sudah 2 tahun ini ia mencoba bersabar berumah tangga dengan Yudi suaminya.Amarah dan tekad bulat Rena sekarang semakin membuncah. Pasalnya, Rena memergoki Yudi suaminya bersama dengan perempuan lain di sebuah cafe. Cafe itu dekat dengan bengkel sepeda motor. Saat itu Rena berada di bengkel motor karena ban motornya bocor.Tampak dengan jelas Yudi suaminya sedang menggandeng tangan seorang perempuan. Entahlah apa itu istri sirinya atau pacarnya, yang jelas selama beberapa tahun ini Yudi sudah tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin untuk Rena. Maka, tepat diusia Rizki yang ke 9 tahun Rena mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Kota Pontianak. Tiga bulan kemudian Rena resmi tercatat sebagai janda. Dalam kesendiriannya ia berdoa semoga anak lelaki satu-satunya itu kelak ketika dewasa dapat membahagiakan istri, anak-anak dan orang tuanya pinta Rena pada Sang Khalik.

***

"Bu, yang ini sudah dipotong, Rizki buat adonan ya bu". Pinta Rizki penuh semangat seperti biasa. Pekerjaan Rizki usai pulang sekolah bukanlah bermain game di gawai tapi ia anak yang berbakti, ia membantu ibunya memotong singkong, tahu dan pisang yang akan digoreng ibunya. Seakan mengerti kondisi keuangan keluarganya dan tampaknya ia berbakat di dunia masakan. Rena tidak menyangka akan hal ini.

Tahun-tahun berlalu,ia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, energik dan patuh pada orang tua meskipun tanpa ayah disisinya.

***

Rena masih tinggal di rumah warisan orang tuanya.Sebenarnya status rumah ini sudah turun waris atas nama Rena dan Reno, saudara kandungnya.  Ia berniat untuk membeli sekedarnya sisanya. Namun ia belum memiliki uang. Hingga akhirnya ia bersepakat untuk mencicil sebagaimana yang abangnya saranka selama 10 tahun. Sebetulnya abangnya ingin memberikan sebagain haknya untuk Rena sepenuhnya, namun zaman sekarang kalau memberi secara cuma-cuma Reno khawatir istrinya tidak terima. Ia tahu bagaimana perangai istrinya. Adapun Reno merasa ingin membantu Rena yang sudah janda, menghidupi anak seorang diri.  Setiap bulan ia memberikan tambahan pangan untuk Rena. Reno sendiri berkecukupan. Ia seorang PNS dan istrinya pun bekerja sebagai karyawan swasta. 

Setelah Rena melunasi harga rumah tua itu, Rena dan Reno menghadap Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kota mereka. Menurut Pak PPAT akan dibuatkan APHB yaitu akta pembagian hak bersama. Hal ini dikarenakan sertipikat hak milik itu atas nama Rena dan Reno.Ada satu pihak yang melepaskan hak dan satu pihak menerima sebagian hak sehingga status rumah tersebut akan menjadi milik Rena.  

***

"Rizki selamat atas pembukaan rumah makan  Ayam Gempor nya ya..Semoga laris manis usahanya". ucap Dea temannya. 

"Selamat bro Riz..barakallah. laris manis ya". Banyak pesan yang masuk di grup UMKM bisnis.

Rena bersyukur saat ini,  usaha ia dan anaknya berbuah hasil. Semenjak Rizki memulai usaha  Ayam Gempor. Juga dukungan dari Paman Reno untuk Rizki. perpaduan usaha Rizki dan Rena dibuatkan menjadi menu andalan usaha mereka. Awalnya Rizki berjualan online dan memliki gerai lapak di dekat rumahnya bersama ibunya. Dengan ide-ide kekinian yang diolah Rizki. Kini usahanya sudah banyak peminat. 

"Rizki tetap harus memonitor dan mengedepankan pelayanan untuk usahamu ya Nak.

"insyaAllah Bu. Rizki akan memperjuangkan bisnis ini. Terimakasiih Bu atas dukungannya selama ini. Ibulah yang jadi sumber inspirasi dan kekuatan Rizki." Dipeluknya ibunya dengan penuh kelembutan, walau air mata ingin sekali tumpah. 

Pembeli yang membeli disaat launching promo Ayam Gempor ramai. Rena mendampingi putranya. Ia terharu diusia Rizki yang masih muda 24 tahun sudah berani membuka bisnis sebesar ini. Ia pun berdoa agar bisnis anaknya dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Dalam sedikit termenung dan doa harapannya. Ia melihat seorang bapak-bapak tua yang berpakaian compang-camping.lndengan sebuah karung putih bernoda. Lelaki tua itu sibuk mengais  beberapa tempat sampah yang ada di dekat parkiran. Berharap menemukan botol mineral ataupun kardus disana. Rena tidak sampai hati, ia hendak memberikan bungkusan makanan untuk pemulung yang sudah agak tua itu. Ia perkirakan usianya sudah 55 tahun.  Berhubung semua karyawan sedang sibuk. Rena berniat untuk  memberikan makanan kepada pemulung itu.

"Pak,ini ada makanan, terimalah." Ucap Rena sambil mengulurkan tangan berisi bungkusan tertulis Ayam Gempor Bang Rizki.

Lelaki paruh baya itu pun menoleh kebelakang berniat untuk menerima tawaran pemberian makanan itu.

Mereka bertemu pandang, tahi lalat di sebelah kanan bapat itu. Yah.ia sangat mengenal sosok bapak pemulung ini.

"Rena..". Tampak ia terkejut setengah mati.

"Maafkan aku". Ucapnya lirih.

Lelaki itu tak sudi untuk mendekati Rena. Kemudian pergi menjauh. Mungkin tidak pernah kan kembali. 

Rena hanya terdiam tidak percaya apa yang terjadi barusan. Angin semilir membelainya lembut seakan memberi jawaban akan suatu hal.

Pontianak, 23 Feb 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjemput rizkiNya

Es Krim

Pantun tentang Pontianak