Belajar dari Kisah Tabi'in, Meraih Mimpi
Tulisan ini sebenarnya ada dinote fb ku. Tapi aku copy lagi diblogku yang baru ini sekedar memperbanyak pernak-pernik tulisan diblogku ini :)
Setiap muslim mestilah seorang visoner, yang mampu merangkai
masa depan dengan cita-citanya sehingga mampu menorehkan sketsa langit
dengan sejarah hidup yang dimilikinya. Bukankah dalam Q.S A Hasyr : 18
Allah senantiasa mengingatkan kita untuk mengevaluasi kedepan dan
merancang amalan untuk proyek besar dikemudian hari?
Yuk Belajar dari kisah tabi’in Urwah bin Zubair , mau tahu bagaimana kisahnya dalam merealisasikan mimpi? Ok let’s check it…
Urwah
bin Zubair adalah seorang tabiin yang dilahirkan oleh generasi
assabiqunal aawalun (orang-orang pertama yang memeluk Islam). Lantas,
siapakah ayah bundanya hingga mampu melahirkan personal sekaliber Urwah
bin Zubair ? Mari kita telusuri nasabnya.
Ayahandanya adalah
Zubair bin Awwam. Dalam versi 10 sahabat yang dijamin masuk surga, maka
Zubair bin Awwam adalah seorang diantaranya. Kemudian, bagaimana dengan
jalur nasab ibunya? Ibundanya adalah Asma’ binti abu Bakar, seorang
wanita yang digelari dengan Dzatun Nithaqain (Pemilik dua
sabuk). Gelar yang begitu fenomenal, tercatat dalam sejarah Abu Bakar
dan Nabi Muhammad saw berdiam diri di gua Tsur. Salah satu sabuknyalah
yang menjadi pengikat bahan-bahan logistik yang akan diberikan kepada
Rasulullah saw dan Abu Bakar As Shidiq.
Subhanallah…dua gen terbaik yang mengalir dalam diri Urwah bin Zubair.
Lalu
bagaimana pula dengan generasi diatasnya (kakeknya)? Kakek Urwah bin
Zubair dari jalur ibunya sudah pasti Abu Bakar as Shidiq, sahabat setia
Rasul, orang pertama yang selalu membenarkan apa yang disampaikan oleh
Rasulullah saw dari kalangan adam dan orang yang dicintai oleh
Rasulullah saw dari kalangan laki-laki. Sedangkan neneknya dari jalur
ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib.Bibi dari Rasulullah saw.
--
Pada
masa remaja Urwah bin Zubair mendapat bimbingan dan tarbiyah langsung
dari bibinya yaitu Aisyah binti Abu Bakar sekaligus istri dari
Rasulullah saw. Bisa dibayangkan betapa dalamnya ilmu Urwah karena
sumber ilmu itu langsung didapat dari Aisyah ra, ahli hadits, tafsir,
pengobatan dan lain-lain. Kehebatan aisyah ra memang sudah dikenal
bahkan menjadi rujukan para sahabat sepeninggal Rasulullah saw tiada,
karena Aisyah ra adalah pemegang kunci absah / tidaknya suatu hadits
yang pernah disampaikan oleh Rasulullah saw. Hal ini dikarenakan daya
ingatnya yang luar biasa dalam menghapal hadits-hadits. Itulah mengapa
kadang kita sering pula membaca atau mendengar hadits-hadits yang
diriwayatkan oleh Aisyah ra.
--
Kisah awal kekuatan mimipi
itu bermula ketika berada di Baitullah, disanalah biasanya sisa-sisa
sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan tokoh-tokoh tabi‘in
senang mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir,
menyejukkan sudut-sudutnya dengan do‘a-do‘a mereka.
Mereka
membentuk halaqah-halaqah, berkelompok- kelompok di sekeliling Ka‘bah
agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan
keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya
yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda
gurau yang mengandung dosa.
Di dekat rukun Yamani,
duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang
mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih
pakaiannya dan menyatu hatinya.
Keempat remaja itu adalah Abdullah
bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus‘ab bin Zubair, saudaranya
lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin
Marwan.
Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian
seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan
cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan mereka melambung tinggi ke
alam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka
yang subur.
Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara: “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.”
Saudaranya, Mus‘ab menyusulnya: “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.”
Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata: “Bila
kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas
sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah
Mu`awiyah bin Abi Sufyan.”
Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tak berkata sepatahpun. Semua mendekati dan bertanya: “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata:
“Semoga Allah Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia
kalian, aku ingin menjadi alim [orang berilmu yang mau beramal],
sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab
Rabb-nya, sunnah nabinya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku
berhasil di akhirat dan memasuki jannah dengan ridha Allah Ta’ala.”
Hari-hari
berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai‘at menjadi
khalifah menggantikan Yazid bin Mu‘awiyah yang telah meninggal. Dia
menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Irak yang pada
akhirnya terbunuh di Ka‘bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan
cita-citanya dahulu.
Sedangkan Mus‘ab bin Zubair telah
menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga
terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya.
Adapun
Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah ayahnya wafat dan
bersatulah suara kaum muslimin pasca terbunuhnya Abdullah bin
Zubair dan saudaranya Mus‘ab, setelah keduanya gugur di tangan
pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada
masanya.
Dan perlu diketahui, Urwah bin Zubair
mengabadikan kisahnya dengan menjadi orang yang ahli tafsir, qur’an,
fiqh. Semasa hidupnya Urwah rajin rmendatangi rumah para sahabat untuk
belajar darinya, sehingga dia berhasil mentrasfer riwayat dari Ali bin
Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari,
Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan
an-Nu’man bin Basyir. Dia banyak sekali mentransfer riwayat dari
bibinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin sehingga dia menjadi salah satu dari
tujuh Ahli fiqih Madinah (al-Fuqahรข` as-Sab’ah) yang menjadi rujukan
kaum muslimin di dalam mempelajari agama mereka.
Subhanallah
itulah usaha-usaha yang beliau lakukan untuk merealisasikan
mimipi-mimpinya. Mimipi-mimpi yang mungkin pada awalnya hanya sekedar
perbincangan biasa. Tapi, energi untuk mewujudkan hal itu menjadi nyata
telah terpendam lama di sanubari hatinya. Perbincangan yang melahirkan
warna baru bagi dunia..
--
Selama hidupnya, ada
penggalan kisahnya yang begitu menabjubkan. Pada waktu itu, Urwah bin
Zubair menderita sakit dibagian kaki, mungkin kalau sekarang kita
menyebutnya dengan istilah tumor kali ya atau yah semacam itulah. Oleh
tabib, penyakit ini dikatakan akan menyebar. Sehingga bila tidak
amputasi tentu akan merusak organ tubuhnya yang lain. Ketika itu, ia
disarankan untuk meminum hal yang memabukkan agar rasa sakitnya tidak
terasa. Urwah bin Zubair menolak seraya berkata; “Aku tidak ingin
memasukkan zat haram kebagian tubuhku untuk sekalipun untuk penyembuhan”
Dan
ketika ditawarkan obat bius (anestesi) Urwah juga menolak dengan alasan
“Aku tidak ingin, kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil
sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya mengharap pahala di
sisi Allah atas hal ini.”
Sehingga pada proses amputasi itu Urwah
hanya berdzikir mengumandangkan kalimatullah. Padahal kaki beliau
dipotong dengan gegaji setelah dipotong kemudian dimasukkan kedalam
minyak panas dalam bejana besi untuk menghentikan darah yang mengalir
dan untuk menutupi lukanya. Ketika itulah Urwah jatuh pingsan.
Semasa
hidupnya Urwah dikenal sebagai person yang dermawan, pemaaf dan
berilmu. Ia punya beberapa hektar kebun kurma yang dipelihara dengan
baik, bila sudah saatnya panen maka pagar kebun kurmanya dibuka dan
dipersilakan bagi musafir atau anak-anak untuk menikmati kurma secara
gratis.
Di akhir hidupnya Urwah wafat dalam keadaan
berpuasa. Karena beliau memang merutinkan shaum selama hidupnya. Saat
menjelang sakaratul maut, banyak kerabat yang menyuruhnya berbuka.
Namun, Urwah menolak karena berharap dapat berbuka dengan air di telaga
kautsar dengan bejana emas dan yang diberikan oleh bidadari.
Ada beberapa hal yang dipetik dari kisah ini:
1.
Ketika kita ingin melahirkan generasi peradaban yang tangguh dan
shaleh. Maka itu bermula pada diri kita, karena kita adalah awal kunci
estafet generasi itu berkembang. Memperkaya diri dengan segudang ilmu
yang kita miliki , menjadikan diri kita shaleh, itu adalah bekal di
kemudian hari untuk melahirkan keturunan yang baik, cerdas serta
mendidik dan mengajarkan mereka kepada nilai-nilai ketauhidan.
2.
Kekuatan mimpi kita insya Allah akan terealisasi diriingi dengan usaha
yang kuat, niat yang benar dan itu sebanding dengan usaha pencapaian
kita. Jadi, bukan hanya sekedar NATO (No Action Talk Only). Intinya,
ingin menjadi apa kita dikemudian hari. Itu adalah pilihan. Dan pilihan
terbaik itu tampak pada seberapa besar kita menjadi batu bata tembok
masyarakat (bermanfaat bagi banyak orang).
3. Hidup itu memang
penuh dengan ujian, dan orang-orang terbaik adalah orang yang lulus dari
ujian mereka. Bahkan menjadikan ujian itu sebagai sarana untuk meraih
apa yang diinginkan. Ujian bukan menjadikan kita lemah, justru semakin
kuat karena husnuzhan kita kepada Allah.

Komentar