Cerpen: Bidadari Akhirat

Pagi itu seperti biasa, Ifa membuat susu coklat hangat ditemani dengan kue kebeng sebagai menu sarapannya. Memang sudah rutinitasnya menikmati sarapan pagi di ruang tamu, bukan di ruang makan seperti kebiasaan anggota keluarganya. Hal ini dilakukannya tak lain karena ia melakukannya sambil membaca koran langganan yang sudah diantarkan ke rumahnya. Kalau bukan koran, kadangpula bacaan paginya adalah majalah Islami yang dipinjamnya dari sebuah Taman Bacaan di kelurahan tempatnya tinggal.

 Berita hari itu tidak jauh-jauh dari kriminal, sudah lumrah sepertinya kasus korupsi ini merajalela di kota ini. Yang paling sering terjadi memang kasus tindak pidana ekonomi. Baik itu korupsi ataupun pencucian uang (money loundring). 

 Tapi hari itu matanya tertuju pada gadis-gadis finalis pemilihan duta sebuah produk motor . Biasanya para finalis itu diakhir malam penentuan mengenakan kosum yang super seksi dengan menampakkan aurat yang jauh dari unsur rasa malu. Ya. Lagi-lagi perempuan. Memang, siapa yang tidak mengakui kalau dibalik kelembutan perempuan ternyata begitu banyak membius banyak orang untuk mengakui sisi indah dari kaum hawa ini. Bahkan untuk sekedar mengakui kehebatan dan mempesonanya kaum wanita ini pun kaum adam dapat bertekuk lutut. 

Tak perlu jauh-jauh menerka. Lihat saja disekitar kita. Iklan mana sih yang tidak menggunakan perempuan sebagai daya tarik konsumen? iklan ataupun SPG dari beragam produk baik itu mengenai makanan, pakaian, perkakas rumah tangga, otomotif maupun rokok, yang jelas-jelas dua bidang terakhir itu identik dengan kaum adam, menggunakan perempuan sebagai symbol daya tarik.

 Apakah ada yang salah dengan perempuan? Sesungguhnya perempuan dilahirkan dimuka bumi ini memiliki banyak keistimewaan dan tujuan yang mulia. Tanpa perempuan, kaum adam tentu tidak dapat lahir. Sejatinya , perempuan adalah partner setia kaum adam. Perangainya yang lembut membawa membawa kedamaian bagi orang-orang yang ada disekitarnya terutama untuk suami dan anak-anaknya. Namun, alangkah ironisnya kelembutan yang menjadi fitrahnya perempuan itu harus dijadikan eksploitasi untuk sebuah kepentingan egoistis pribadi. Banyak orang yang menyalahgunakan fitrah perempuan untuk keuntungan semata. Menjadikan mereka sebagai daya tarik bahkan untuk menjerumuskan kaum adam ke lembah kenistaan. Kaum adampun lupa akan kodratnya menjaga dan melindungi kaum perempuan. 

 Ifa hanya menggelengkan kepala mengetahui fenomena ini. Ia masih ingat ketika guru ngajinya mengatakan sebuah hadits tentang keutamaan malu. Al Haya. Al Haya u minal iman. Malu itu adalah bagian dari iman. Bila masih memiliki rasa malu maka engkau masih punya keimanan. Namun bila rasa malu itu telah tercabut dalam dirimu, hilanglah keimanan itu. Jika tak punya malu berbuatlah sesukamu. 

Orang yang tidak punya malu itu melakukan semaunya tanpa dipikir baik buruk untuk kedepannya. Ya, benar saja,orang-orang yang tidak memiliki rasa malu itu berbuat apapun sesuai kehendaknya, seolah-olah urat nadi malu mereka itu sudah putus atau karena kekalahan mereka yang sudah terhanyut dalam godaan hawa nafsu yang sedemikian besar. Berdua-duaan dengan lawan jenis ditengah kondisi yang sepi atau ramai sekalipun tanpa status resmi (sudah menikah) bukan menjadi sebuah rasa malu, bahkan dengan sangat PDnya memamerkan aurat yang notabene mestinya dijaga dan ditutup untuk keamanan dirinya. Padahal jelas-jelas dari segi agama, yang beragama Islam mestinya tahu untuk hal-hal seperti itu, apalagi budaya timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan seolah-olah sudah luntur termakan zaman yang kian tidak berteraturan ini. 

 Sebagai mahasiswi hukum, wajar Ifa dituntut agar dapat berpikir kritis,bertanya atau berdiskusi terkait sebuah permasalahan yang dilihat disekitarnya. Pernah suatu kali ketika ia mengikuti mata kuliah Hukum Perikatan ,Ifa pernah bertanya kepada dosennya. “Pak, kalau menurut pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur syarat-syarat perjanjian, disitu kan tertulis subjek hukum haruslah cakap hukum. Jadi , kalau perjanjian yang dilakukan oleh subjek hukum tersebut yang salah satunya belum dapat dikatakan sebagai cakap hukum itu bagaimana pak? Misalnya SPG yang usianya mungkin masih belasan tahun atau artis-artis yang usianya belum cukup umur berdasarkan usia KUHPerdata untuk melakukan perbuatan hukum.” 

 Dosen Ifa menjawab,”Ya, memang banyak kasus itu sekarang ini, kita lihat di televisi entah itu artis atau SPG yang masih belum cukup umur untuk melakukan kontrak kerja yang merupakan perbuatan hukum. Dikarenakan usia mereka belum cakap hukum.KUH Perdata mengatur masalah perwalian. Dalam hal ini mereka yang akan melakukan perbuatan hukum dikenakan perwalian,artinya ada wali yang menggantikan posisi mereka melakukan cakap hukum. Wali mereka inilah biasanya dari orang tua”. Ifa pun mengerti, kenapa sampai bisa-bisanya artis cilik itu dibolehkan bermain dengan kontrak kerja yang bahkan mereka pun tidak terlalu memahami isi kontrak dan menandatanganinya.

 Bebicara mengenai SPG (Sales Promotion Girl), terkadang saat Ifa suka mengagumi kecantikan dari perempuan yang terlahir cantik, entah itu para memperhatikan para SPG atau perempuan yang didandani dengan sangat cantik dengan penampilan yang sungguh mempesona. Terpikir dalam benakknya ingin bisa tampil secantik perempuan yang hampir tidak memiliki cela dari segi fisik dan dzahirnya. Namun, Ifa juga ingat sebaik-baik perempuan adalah yang mengikuti perintah RabbNya. Apalagi pesan Rasul yang mengatakan bahwa perempuan itu adalah perhiasan terindah dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah. 

 Kalau ditanya pada seluruh perempuan. Pasti semua perempuan menginginkan menjadi cantik. Karena memang begitulah fitrahnya, ingin selalu tampil cantik. Namun, kecantikan duniawi itu relatif dan tidak ada yang abadi. Kecantikan duniawi itu akan hilang ditelan waktu. Fisik yang menawan tergantikan dengan kondisi yang rapuh, tua, beruban,serta kulit yang sudah kerut dan kendur. Akan tetapi kecantikan akhirat akan terus abadi, tercipta karena ketaatan pada RabbNya yang menjadikan hamba-hambaNya menjadi bidadari yang sangat cantik di akhirat kelak. Dalam hati terdalamnya, Ifa pun memendam cita-cita untuk menjadi bidadari akhirat. Sebagaimana yang sering ia baca dalam ayat-ayat cintaNya. Penggambaran tentang bidadari itu terdapat dalam qur’an surah al waqi’ah dan Q.S Ar Rahman. 

 Ifa merenungi dengan sangat takjub kecantikan bidadari yang ia baca pada sebuah buku yang memuat hadits rasulullah tentang gambaran bidadari surga yang berbunyi: Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata, “Aku bertanya kepada rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, berkenankah engkau menjelaskan ayat ,”Dan bidadari yang bermata jeli.’ (Q.S Al Waqi’ah :22).” Rasulullah saw bersabda “Yaitu bidadari yang bermata jeli dan lebar, rambutnya hitam berkilauan seperti kilaunya sayap burung nasar.”

 Aku bertanya lagi,”ceritakan padaku firmanNya , “Laksana mutiara yang tersimpan baik’(Q.S Al Waqi’ah:23) Rasulullah saw bersabda, “Kebeningannya laksana beningnya mutiara dikedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia. “Aku berkata lagi, “jelaskan kepadaku firmanNya, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari yang baik-baik dan cantik-cantik.’ (Q.S Ar Rahman:70). Beliau bersabda, ‘Berahlak baik dan berwajah cantik.’ Aku bertanya lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman, ‘Seolah-olah mereka seperti telur burung unta yang tersimpan dengan sangat baik,’ (Q.S As shaffat :49). Beliau bersabda, “Kelembutan kulitnya sepeti lembutnya kulit yang ada dibagian dalam telur dan terlindungi oleh kulit telur bagian luar atau yang biasa disebut dengan putih telur".

 Aku (ummu Salamah) terus bertanya lagi, “ Jelaskan kepadaku tentang firmanNya , ‘Penuh cinta dan sebaya umurnya.(Q.S Al Waqi’ah : 37)Rasulullah saw menjawab , “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal dunia dalam keadaan tua, rabun, dan beruban. Mereka diciptakan kembali dalam keadaan gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.” 

 Pandangan Ifa menjadi lebih fokus saat sambungan hadits tersebut ia baca yaitu , ketika Ummu Salamah bertanya “Manakah yang lebih istimewa, wanita dunia ataukah bidadari bermata jeli? “Beliau menjawab, “Perempuan dunia itu lebih istimewa dari bidadari bermata jeli, sebanding dengan istimewanya yang tampak dengan yang tidak tampak.” 

 Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah mengapa demikian?” Beliau menjawab, “Yaitu karena shalat yang dilakukannya, puasa dan ibadah-ibadah mereka. Allah swt membalut wajah merekadengan cahaya, dan membalut tubuh mereka dengan sutera. Kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya terbuat dari mutiara dan sisirnya dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak akan mat, lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu rela dan tidak pernah bersikap kasar. Bahagialah orang yang memiliki kami dan dapat kami miliki.” 

 Subhanallah, Ifa merasa inilah jawabannya. Kecantikan yang abadi itu dari sejauh mana ia melaksanakan perintah Tuhannya. Dengan segenap perjuangan dan pengorbanan yang diraih ditengah-tengah arus zaman yang kian jauh dari perintah Allah. Bahwa prestasi itu didapat dari kesungguhan beramal shaleh selama di dunia. Bagi seorang perempuan yang taat pada TuhanNya maka kemuliannya melebihi dari para bidadari yang diciptakan Allah.

 Subhanallah.. Hari itu Ifa bertekad kelak di akhirat nanti ia dapat bertemu dengan RabbNya dan ia ingin menjadi bidadari yang cantik nan abadi. Seperti namanya Iffah Zhafiratunnisa. Seorang perempuan suci yang beruntung. Seorang wanita yang selalu menjaga kesucian diri lahir dan batinnya. Ia serahkan hidup dan matinya hanya untuk Allah, mengarungi perjalanan hidupnya dengan pondasi keimanan dan ketaqwaan pada Allah swt…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjemput rizkiNya

Es Krim

Pantun tentang Pontianak