Cerita Mini: Impian Tama

Tama sosok lelaki berperawakan kurus  dan tinggi itu kini mulai memikirkan masa depannya. Nama lengkapnya Agus Pratama, sosok pemalu dan tapi berkemauan tinggi



. Kau tebak usianya berapa, 20 tahunan? 30 tahun? Hhm yang benar adalah ia lelaki berusia 16  tahun yang masih duduk dibangku SMA. Masih terbilang anak-anak, lebih tepatnya belum dianggap dewasa menurut aturan hukum yang berlaku. Tapi Tama punya impian. Yang sejak dari tahun-tahun yang lalu ia inginkan. Suatu saat ia ingin menjadi seperti atau paling tidak mengikuti jejak pencetus mimpinya. Siapa lagi kalau bukan Utsman bin Affan. Sosok sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Lebih dikenal sebagai sosok pebisnis handal, dermawan, tangguh dan beriman bahkan dicatat sebagai salah satu sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Dengan kekayaannya Utsman bin Affan pernah meyumbangkan sebanyak 300 ekor unta dan 50 kuda tunggangan. Begitu juga mendermakan 1000 dinar yang diserahkan langsung kepada Rasulullah. Rasulullah pun berkata; “Apa yang diperbuat pada hari ini, Utsman tidak akan merugi (di akhirat)”. Ustman bin Affan juga pernah membeli sumur air yang pada saat itu umat muslim sedang dilanda kekurangan air di sebuah daerah.  Untuk keperluan umat muslim, Ustman bin Affan mampu membeli sumur  milik orang Yahudi yang dijual dengan harga yang sangat mahal. IItulah  sekelumit kisah sukses Ustman bin Affan yang pernah ia lihat di channel YouTube langganannya. 

Tama sebenarnya bukan terlahir dari anak yang kaya raya ataupun dari kalangan pebisnis handal. Ia hanya anak dari orang tua yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan ibunya berjualan gorengan dekat mall yang sering dilalui pejalan sekitar. 

Jikalau teman-teman sekolahnya sering posting liburan sana sini dan menikmati  'hang out' di beberapa cafe ternama. Tama hanya jadi 'pengamat' memperhatikan itu semua. Kadang-kadang, ia juga ke cafe/ rumah makan terkenal ala-ala kekinian anak muda dikotanya, tapi..bukan untuk menikmati secangkir kopi yang belum sanggup ia beli sebagai pelajar. Bukan tidak sanggup, harganya yang terlewat tinggi  tentu itu diluar kapasitasnya. Terlebih ia masih pelajar,ia lebih banyak mengalokasikan uang yang dimilikinya dari hasil mengajar les anak-anak tetangganya untuk membeli buku. Kalaupun ia ke warung kopi terkenal itu, itupun ia manfaatkan untuk mengamati  segala konsep desainnya, menunya, cara bekerja karyawannya, marketingnya dan lain sebagainya.

Semua itu dilakukannya agar kelak ia mampu berwirausaha setamat SMA meneladani kiprah jejak sahabat Rasullullah, Ustman bin Affan yang bergelar dzun nurain. Pemilik dua Cahaya.


Pontianak, 5 November 2021


#tulisanDewiSuryani

#day4nulispribadi

#membiasakanmenulis


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjemput rizkiNya

Es Krim

Pantun tentang Pontianak