Cerpen: Rezeki Terbaik untuk Dita

 

By :Dewi Suryani


Hujan baru saja reda setelah mengguyur kota tempat tinggal Dita.  Perempuan berusia 28 tahun itu berencana mengantarkan paket yang telah dipesan custumernya melalui marketplace untuk dibawa ke kounter ekspedisi yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Biasanya  ada kurir yang bertugas mengambil paket di rumahnya. Namun hari ini, kurir berhalangan masuk karena sakit.

Akhirnya Dita yang yang mengantarkan sendiri sekalian ia berniat akan belanja kebutuhan sehari-hari yang masih kurang di minimarket langganannya. Saat diperjalanan menggunakan motor Scoopy nya yang berwarna merah,Dita melihat indahnya pelangi.  Ah pelangi mengingatkan ia bahwa kehidupan ini begitu berwarna-warni. Kadang duka meliputi namun tidak jarang pula ada kejutan spesial yang hadir di tengah kehidupannya .

Dita seorang istri yang sudah dua setengah tahun menikah. Sebagai pasangan muda, ia pun tentu ingin memiliki buah hati. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin orang-orang barat atau diluar sana menggagas child free. Hidup tanpa anak.  Sebuah pemikiran aneh yang menolak fitrah kemanusiaan, terutama naluri seorang wanita untuk menjadi seorang ibu.  Bukan keinginannya menunda kehamilan, hanya belum rezeki saja. 

Dita teringat setahun yang lalu, saat  itu usianya 27 tahun, ia mengalami keguguran kehamilan pertamanya. Sedih memang, antara harapan dan takdir terkadang tidak bisa disamakan.

"Sabar dek, mungkin kita belum waktunya, insyaAllah selalu ada rencana Allah dibalik ini semua." Ucap suami Dita menghibur dan menenangkan istrinya setiap kali Dita merasa sedih. Benar saja, tahun tersebut Dita belum ditakdirkan untuk memiliki anak, tapi karir suaminya Alhamdulillah melejit, suaminya dipromosikan untuk naik jabatan di tahun yang sama. 

***

Sore ini Dita akan  memasak untuk  menu makan malam. Dulu sebelum pandemi, sore-sore begini ia mengajar les privat mata pelajaran matematika dan fisika. Tapi kini semenjak pandemi semua siswa mengundurkan diri dan tidak ada lagi yang les privat dengannya. 

Dita pun menghabiskan lebih bnyak waktu di dapur dan berjualan. Kali ini ia ingin memasak cah kangkung dan telur balado kesukaan suaminya. Dita penyuka orak arik tempe kering,  maka ia punya stok dan masih ada  sepertiga isi toples. Untuk sambal pun, Dita masih  punya simpanan beberapa jenis sambal. Ada terasi dan sambal cumi asin. 

 Saat menikmati makan malam Dita berujar kepada suaminya.

"Bang akhir-akhir ini adek mudah lelah, ga tahu kenapa"

"Kamu mungkin banyak pikiran,Dek" ucap suaminya sambil menikmati sajian.

"Masih mikirin hasil rangking CPNS itu ya, sudahlah rezeki sudah ada yang mengaturnya". 

"Husnuzhan aja sama Allah, insyaAllah, Allah kasi diwaktu yang tepat dengan rezeki terbaik dek"  Ucap suaminya mengihibur. Dita memang ada sedikit pikiran terkait pengumuman SKD tes CPNS guru di kotanya. Ia sudah 3 kali mencoba peruntungan untuk menjadi ASN di kotanya. Namun, 3 kali pula ia gagal untuk berjuang ke tahap berikutnya yaitu SKB. Seleksi Kompetensi Bidang. 

Benar kata suaminya terkait rezeki, bukankah dulu ia pernah gagal juga tes CPNS sewaktu sebelum menikah namun ternyata rezeki terbaik untuknya adalah ketemu jodohnya dan menikah. Tahun lalunya juga ia gagal tes CPNS namun ternyata ditahun tersebut banyak yang mau menjadi reseller atau marketer di produk yang ia jalankan kurang lebih satu tahun belakangan ini. 

Dan kini ia tidak tahu rencana Allah yang mana lagi yang terbaik untuknya. Dalam tafakurnya, Dita merasa mual-mual dan ingin muntah..dihatnya kalender yang terpajang di meja dekat rak bukunya. Bulan ini ia telat jadwal haidnya, seketika itu juga ia ingin suaminya membelikan tespek..sesegara mungkin..

Pontianak, 4 November 2021

#tulisanDewinSuryani

#day3nulispribadi

#membiasakanmenulis

Komentar

taffeykaczka mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Postingan populer dari blog ini

Menjemput rizkiNya

Es Krim

Pantun tentang Pontianak